Budayakan apresiasi karya, Budayakan hargai hak cipta, Kalau mau gaya Jangan bajak karya saya. Selalu cantumkan nama penulis asli dan sumber dalam Copy - Paste anda :)

Selasa, 31 Desember 2013

Selamat Pagi, Januari

“Gua boleh jujur gak? Gua kaget. Tapi boleh ketawa bentar ya? Ahaha.”

“Ah gitu kan, lo udah janji gak bakal ngeledekin gue tadi.”

“Haha, yaelah bentar doang kali.”

“Nah, geli kan lo dengernya. Gue bilang juga apa. Berarti selama ini gue cukup cerdas menutupi perasaan itu di depan elo-elo pada yah? Hegh,,,” Kila menghela napas, menundukkan kepalanya sambil terus mendengarkan suara Bianca di ujung sambungan telepon.

“Nggaaa, ngga begitu  Kil. Sebenernya ya kalo diperhatiin sikap lo ke dia emang beda sih. Lebih gimana gitu ya, tapi ngga pernah kita permasalahin karena kita pikirnya ya semua normal-normal aja. Pantesan lo sering bilang kangen Bandung, Bandung tuh dia maksudnya, haha. Sejak kapan sih emang nyimpen perasaan buat dia? Terus kok bisa sih?”

“Sejak awal Tahun ini sih Bi, kalo soal itu ya mana gue tau. Gue juga ga ngerti bisa sedamai itu kalo dia ada di deket gue.” Lututnya ditekuk, tangan kirinya memeluk kedua lututnya. Rambut hitamnya yang sebahu ikut bergerak semakin ke bawah.

“Ahaha, iya-iya. Lagian tiba-tiba ngomong ‘kalo udah waktunya mungkin gue bakal cerita ke elo’, ya gue jadi penasaran lah. Bagus sih lo akhirnya berani cerita. Pokoknya tenang aja, wajar aja ko. Lo juga gausah takut, hari gini sih udah ga jaman diem-diem suka. Apa mesti gue bantuin ngomong ke dia?”

“Suka? Suka lo bilang? Iya lo cuek orangnya, enak-enak aja. Gue perasa Bi, nggak enak kalo gue bilang.” Kila menekankan kata suka, ada sebal disana saat Bianca menyebutnya suka Alvin. Bukan, bukan Kila tidak menyukai Alvin. Tapi perasaan Kila lebih dari sekadar suka. “Gue engga mau setelah gue bilang gue malah merenggangkan hubungan pertemanan gue sama dia selama ini. Gue... gue ga mau dia malah menghindar Bian.” Di atas kasurnya yang bersprei biru muda Kila semakin menunjukkan raut wajah kebimbangan, ragu itu tampak bersamaan dengan tatapan matanya yang tak tertuju pada satu titik.

“Okeh. Begini ya Akila Dimitri, pertama lo udah hampir setahun simpen perasaan ke dia sendirian. Kedua, apa yang elo takutin itu cuma akan jadi ketakutan lo sendiri. So, pertanyaannya adalah sampai kapan lo mau terus-terusan diem begini?” Suara Bianca terdengar mulai meninggi, gemas.

“Gue gak tau, gue bilang ke elo aja gue butuh mikir berkali-kali bangeeet. Gimana mau bilang ke Alvin, Bi?” Pertanyaan ini mungkin jadi retorik, tapi toh tetap meluncur dari bibir mungilnya yang merah muda.

“Ada gue. Lo gak usah kebanyakan mikir, yang bisa lo pilih ada tiga. Friends, lover, or NOTHING! Terserah.”

“Kok diem Kil? Gue salah ngomong?” Beberapa saat Kila tidak menjawab. Hening yang terdengar di telinga Bianca.

“Ngga, ngga apa-apa. Sebenernya pada akhirnya sekarang gue cerita ke elo karena gue ga tau harus gimana. Lo tau gue lagi deket sama Fadhil kan, awalnya ya gue jalanin aja. Tapi pas tadi gue ketemu Alvin, dia itu abis dari Margo city sama cewe. Finally, gue sadar. Gue ke Fadhil itu cuma sekadar upaya pembodohan perasaan gue sendiri, gue gak mau pada akhirnya gue harus bersandiwara di depan Fadhil dan semua orang. Gue ngerasa, jadi munafik. Gue ga bisa membohongi perasaan gue sendiri lagi Bi, gue sayang Alvin.” Bibirnya tergetar, butiran-butiran kaca di matanya pecah terjun mengaliri pipinya. Napasnya mulai tidak teratur, terengah, perasaan ini hampir sepanjang tahun mengoyak hati terdalam Kila. Sayang yang membisu, kesediaan yang menuli, dan kata-kata yang membeku di ujung lidahnya sepanjang waktu kini memecah ketegarannya lagi.

“Kil, udah. Jangan nangis. Pada akhirnya lo emang harus mengatakan tentang ini ke Alvin sih, i think.”

“Gue gak siap bi. Gue gak siap kalo nantinya dia malah jadi menjarak, atau malah menghilang sama sekali.”

You’re beautiful. Sederhana, gak banyak gaya, mungkin aja si Alvin juga punya perasaan yang sama seperti perasaan yang lo simpen. Who knows? Siap atau ngga, kita tunggu sampe lo siap. Gue bantu sebisa gue, apa yang bisa gue bantu ya gue bantu. Udah ya nangisnya?”

“Hmm, makasih ya Bian. Gue cerita ini ke elo, karena di antara temen yang lain cuma lo yang pernah cerita aneh-aneh ke gue, dan gue tau itu cuma lo ceritain ke gue.” Tangannya mengusap, membersihkan bekas tangisnya.

“Idealnya begitu kan? Melengkapi di berbagai kondisi, susah-seneng, Friendship.”

            Kila tersenyum simpul. Ketegaran hatinya terus diuji waktu, ketulusan perasaannya semakin terasah karena ragu yang menggelisah. Perasaan itu, seutuhnya adalah milik Kila untuk lelaki pujaan hatinya. Lelaki yang tanpa alasan membawanya pada kedamaian. Yang Kila tahu, dia menyayangi dan mengasihi Alvin tanpa ingin menyakiti siapapun. Tidak hatinya, tidak hati Alvin, atau bahkan seseorang di luar sana yang juga menyayangi dia atau Alvin. Satu yang belum Kila punya, ketetapan hati untuk mengatakan kesucian rasanya yang terus tertahan, terdiam. Waktu, mampukah kau jawab segala keraguan itu?
***
            Line
          Pesan Baru Diterima
          Tutup – Lihat

            Kila menekan tombol lihat pada layar androidnya. Matanya sedikit berdelik saat melihat nama Sakti yang muncul. Tidak biasanya Sakti mengirimkan Kila pesan melalui Line.

“Kil, dimana? Masih ada jadwal ngampus ga? Ada yang titip kado buat Alvin. Urang takut dia udah gak di Depok Kil. Dia ultah tanggal 26 Januari. Ngasih kadonya bebas sih kapan aja, haha. Jangan bilang-bilang Alvin ya, biar kejutan.”

“Di Bintaro, sekarang mah lagi kosong tapi nanti Senin tanggal 30 Desember masih ada UAS. Kenapa Sakti? Oh ya? Fans sekali sepertinya.” Dikira berita penting apa, kenapa harus dititip ke Kila? Kenapa tidak Sakti saja yang memberikannya langsung? Bukankah gadis itu menitipkannya melalui Sakti? Menyebalkan.

“Kan urang temen SMA nya, ada yang nitip. Bisa ga Kil? Urang titip ke maneh aja. Kasihinnya pas kalian ketemu nanti. “

“Iyah Sak, bisa. Itu maksud gue yang nitip fans sekali.”

“Ia, hhaha begitulah si Alvin. Maneh ke Depok kapan Kil?”

“Senin Sak, itu UAS doang abis itu mau langsung cabut ke Bandung. Mau ketemu di Bandung aja atau gimana nih?” Dengan malas Kila mengetik balasan untuk Sakti.

“Oh gitu, gitumah ketemu di Bandung aja deh. Si Alvin diem-diem ada yang ngefans, haha gak ngerti.”

“Iyah, kalem gitu dia haha.” Kila mulai semangat saat fokus pembicaraan beralih menjadi tentang Alvin.

“Mungkin karena kekalemannya itu ya Kil. Menurut urang sih emang cool si Alvin. Tapi Fadhil masih lebih cool, hahaha.”

“Kekaleman Alvin perlu diakui memang. Kharismatik. Ih Fadhil.”

“Alvin tuh diem-diem mematikan, kalo si Fadhil mah memang mematikan. Lagipula Fadhil jauh lebih populer juga kan di kampus. Alvin pendiem banget sih.”

“Ngga semua orang mementingkan kepopuleran Sakti, kalo menurut gue sih mending Alvin kemana-mana, jawuuuuh! Ahaha.”

“Nyebelin ah si Alvin mah, susah dikontak. Sok sibuk, ribet euy! Tapi dulu pas promnight SMA urang sama dia ngeband, dia jadi vokalis sama gitaris sekaligus. Anjirrr, keren banget Kil dia. Urang aja sampe terkesima, ahaha.”

“Fadhil sanguinis, si populer. Alvin pleghmatis, si pecinta damai.” Ya, tanpa bermain gitar dan bernyanyi saja dia sudah begitu memikat Kila. Kila sendiri bingung, perasaan itu entah datang dari mana.

“Apaan ituh Kil? Karakter psikologi ya?”

“Itu namanya kepribadian dasar. Ada empat: sanguinis, melankolis, pleghmatis, koleris.” Meski bukan Mahasiswa psikologi tapi Kila senang membaca. Termasuk buku personality plus yang membahas hal itu dengan lengkap. Buku itu baru saja selesai dia baca, masih tergeletak di samping gulingnya.

“Wah, urang kurang ngerti, hehe. Mantaplah!”

“Oiya Sak, nanti gue nginepnya di Dipati Ukur, di tempat Bianca.”

“Siplah, nanti diatur lagi aja ketemuan buat ngasih kado Alvinnya.”

            Bandung, Alvin. Dua kata itu yang kini memenuhi kepala Kila, berlarian hingga Kila bingung bagaimana untuk menghentikannya.
***

            Mata Kila melotot sejadi-jadinya, ketika dia buka kontak whatsapp ada nama Alvin di sana. Matanya memandang lekat teks yang tertulis di sana ‘Hey there! I’m using whatsapp’ Sejak kapan Alvin pakai whatsapp? Pipinya membukit merah, tepi bibirnya tertarik kesamping perlahan, sorot matanya terlihat cerah. Sesegera mungkin Kila mengetik pesan whatsapp untuk Alvin.

“Alviiiin, tadi link casting nya udah gue kirim lewat sms ya. Dicek, baca lagi aja. Kalo mau apply barenglah ya.”

“Kil, itu nyita waktu ngga yah? Mau apply pemilihan ketua UKM seni budaya juga soalnya.”

Choose one, ke senbud aja kalo gitu mah. Condong ke arah sana kan?”

“Tapi belakangan ini sadar dari dulu pengen terjun ke acting.”

I see. I just try to explore that since i know what did you want. Atau, apply dulu aja dua-duanya. Casting-nya kan Cuma sehari, setelah pengumuman lolos atau engganya baru deh tentuin langkah selanjutnya. Kalo keterima ya terusin, kalo ngga ya fokus di senbud. Jangan sia-siain kesempatan ini begitu aja Vin, ya?

“Yasudahlah, sampe tanggal 20 Januari kan ya batas kumpulin berkasnya?”

“Iya tanggal 20.”

“Siiip, Akila lagi dimana sekarang?”

“Di rumah, besok Akila mau berangkat ke Bandung dong. Alvin udah di Bandung?”

“Akila di Tangerang? Mau ngapain di Bandung? Gaboleeeeeeeh.”

“Ih, jahatlah. Kenapa coba? :p. Mau 20-an di Bandung. Lagian udah kangen Bandung.”

“Gaboleh soalnya gak ngasih gua ceweee, hha. Besok maghrib gua ke Bandungnya. “

“Naik bis?” Kila mengetuk-ngetukkan kakinya ke kasur. Menanti balasan teks dari Alvin yang tak kunjung muncul di layar androidnya.

         Kila membalikkan badannya menjadi menghadap langit-langit kamarnya. Menatap lampu kamarnya yang masih berwarna kuning, bukan putih. Sejak dibonceng Alvin keliling Depok malam itu Kila sangat menyukai bola lampu pijar, warnanya yang memendar serasa sinar bulan yang terus setia menghangatkan malam. Matanya terpejam, mengingat setiap detil tentang Alvin malam itu. Hoodie abu-abu, sepatu ket merah luntur, dan aroma kesederhanaan yang mencuat dari tubuh Alvin menghangatkan dadanya, hampir persis seperti malam itu. Dengan sigap Kila meraih androidnya dan kembali mengirim teks whatsapp untuk Alvin.

“Vin” Kila menguji dengan panggilan singkat.

“Naik traveeel.”

“Loh bedanya? Berhubung besok gue masih ada UAS sampe jam tiga baiknya gue naik apa? Rencana awal sih mau naik bis yang lo bilang lewat di depan jalan Margonda itu. Ada saran?”

“Mau 20-an? Maksudnya? Sorry lama balesnya tadi mandi dulu.”

“Mending di depan Margonda, tapi sebelum jam empat udah harus stand by nunggu. Lebih bagus lagi Kila ke terminal Depok aja, ini akhir taun, rawan penuh bisnya."

"Mau 20 tahunan di Banduuung Alvin! Sebelum jam empat yah? Okelah. Berapa deh Vin tiket bis yang itu?”

“Oohiiaaiiaa ngertiii, Akila ulang tahunnya tepat satu Januari kan ya,ahaha. Harusnya suh masih 55 ribu.”

Handphone-nya udah ganti qwerty nih ya, asik deh android baru. Typo i sama u, ahaha.” Seingat Kila, kalau ingatannya belum rusak, ponsel Alvin adalah tipe lama yang hanya mendukung fitur telepon dan pesan singkat saja.

“Ngga ko, sengaja.”

“Lah yaiyakali, :p?”

“Mana ceweeee Kil?”

I couldn’t give it to youuu, syalala...” Alvin memang begitu, mungkin karena dekatnya dia dengan Kila. Dia tak pernah menyadari bahwa ada perasaan Kila di antara mereka. Tidakkah Alvin lelah menulikan hatinya?

“Jahatlah, udah datwng ke kota orang, ckck.”

“Se-typo itu yah ini, ahaha. Nggaaaaaaak, ngga ada Vin gue jahat sama lo :p.”

“Kilaa itu bukan typo, aduuuuh. Itu sengaja.”

“Lah gitu aja? Whatever-lah ya yang penting udah bisa whatsapp. Sms elo mah bagai katak merindu bulan, hah.” Begitulah memang, bagus sudah ada whatsapp. Rentang Alvin menjawab pesan Kila jauh lebih cepat jika dibanding saat menggunakan layanan pesan singkat.

“Emang kenapa?”

“Iyaaah, gak tau itu kapan elo balesnya.”

“Vin?” sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit Kila menunggu tak ada jawaban apapun dari Alvin. Masih, datang dan pergi begitu saja. Alvin.
***
            Whatsapp
          New messages
          Bianca Dianita

“Kil besok berangkat jam berapa?”

“Jam setengah empat dari Depok.”

“Lo di jalan ati-ati yah.”

“Iyah, pasti kok Biaaan :D.”

“Nah, anak pintaar :p”

“Bi,”

“Iya? Kenapa Kil?

Someone has tell me about this new year. Pergantian tahun ini bertepatan dengan hari rabu terakhir di bulan Safar menurut kalender Islam dan Jawa. Dia bilang Tuhan akan menurunkan banyak bala bencana.”

“Terus? Kil, elo percaya sama broadcast message Rebo Wekasan kaya gitu? Itu mitos ajah kali ya.”

“Bukan, bukan dari broadcast message. Tapi ya adalah sesepuh deket rumah bilang gitu, anehnya dia bilang ke gue pas gue balik sendiri dari warung. Firasat gue nggak enak Bi.”

“Makanya kan tadi gue bilang elo ati-ati. Lepas dari itu mitos atau bukan, perayaan tahun baru kan banyak orang turun ke jalan, pesta, hura-hura. Nah, kalo pada maksiat ya bisa aja dikasih bencana. Pergantian tahun itu kan gimana baiknya kita bisa maknai dengan perubahan ke arah yang lebih baik. Ati-ati bersikap juga, jangan lupa berdoa Akilaah, hhe. Jangan dipikirin yang kaya gituan ya.”

“Elo Bi, bisa aja, bisa terus ya. Ahaha. Tapi bi, ini seandainya ya, seandainya ada apa-apa sama gue nanti, gue mau minta tolong.”

“Apa? Mau minta sampein ke Alvin tentang perasaan elo? Iyah, bakalan gue sampein.

“Loh kok lo tau?”

“Abisnya apalagi coba?”

“Hhehe, jadi malu gue. Segitunya ya?”

“Yayaya, gue hanya bisa tersenyum Akilaaah. Haha.”

“Ya kan gak ada yang tau, jaga-jaga aja. Baik dan pengertian banget sih si Biancaa ini, terima kasih Tuhan udah kirimin makhluk semacam ini buat Kilaaaah.”

            Kadang, Bian menyebalkan, tapi begitulah teman. Semua terasa lengkap karena ada waktunya masing-masing.
***

“Vin, nanti turun bis nya dimana? Kalo mau lanjut ke Dipati Ukur naik apa?”
“Alviiin.”

“Turunnya di Pintu Tol Pasir Koja. Nanti akang-akang bisnya bilang ‘Pasir Koja Holiis Pasir Koja Holiiis’ nah itu maksudnya nanyain siapa yang mau turun di situ. Dari Pintu Tol nya nggak jauh, jadi kamu siap-siap turun.”
“Di lampu merah pertama bisnya berhenti kan, turun di situ. Soalnya kalo di atas jam tiga dari Depok sampe Bandungnya nanti udah gak ada bis dalam kota. Dari situ kamu naik angkot oren arah ke Dago. Angkot orennya ada dimanaaah? Angkot orennya ada di seberang tempat akila turun, biasanya ada yang mangkal kok di situ. Terus tinggal bilang, turunin di tempat angkot yang ke arah Dipati Ukur.”
“Di Dago udah tau jalan belum?”
Iyah Kilaaah, pendiiing.

“Okesip sip, makasiih Alvin. Nanti kalo Kilah bingung Kilah telepon kamu ya. Kamu mau angkat kan? Hahaa?”

“Iyaah."
***
          Whatsapp
          New messages
          Alvin

“Kila dimana? Udah naik bis belum?”

“Lagi di angkot ini, menuju terminal Depok. Kamu dimana?”

“Masih berres-berres di kosyaan. :p”

“Kirain nanyain mau bareng.”

“Hhehe, nggaak. Alvin kan nanti jam enam berangkatnya.”

“Ini Kila udah di bis. Kira-kira sampenya jam berapa?”

“Tiga jam sejak mulai berangkat.”

“Untung dari terminal yah, kalo nunggu di depan Margonda gak dapet duduk deh kayanya. Penuh euy.”

“Nah kan bener, hahha. Kalo di atas jam tiga emang rawan penuh. Bisnya udah jalan?”

“Belum, kata supirnya berangkat jam lima.” Kila menekan tombol daya androidnya. Kapasitas daya di baterainya menunjukkan angka 15% sementara dia masih harus melewati tiga jam perjalanan.

            Kila menatap jauh ke luar jendela, langit Depok mulai mendung. Isi kepalanya mengawang menggambarkan Alvin. Dadanya berdebar, tangannya memindahkan tasnya ke pangkuan. Memeluk erat tasnya, mencoba memejam mata sebelum perjalanan ini dimulai.
***

            Kila terbangun, tatapannya menembus jendela bis MIG Depok-Bandung. Kila duduk di sisi dalam bagian kanan bis. Berdecak kagum, dalam gelap malam lampu-lampu yang dinyalakan dari kejauhan terlihat seperti bintang yang berpijaran. Titik-titik anak hujan menghalangi pandangannya ke arah langit. Dingin semakin terasa, tangannya di masukkan ke dalam kantung celananya. Androidnya, Alvin. Kila secepat kilat menghidupkan tombol daya ponselnya. Mencari kontak whatsapp Alvin.

“Bis kamu udah jalan Vin?”

“Udah, Kamu udah dimana? Macet ga?”

“Lancar jayaa, km 51 nih. Hampir sepanjang jalan ini bukit bintang semua. Untung yah berangkatnya agak sore.”

“Puji Tuhan ya. Sekitar 90 menitan lagi sampe Bandung berarti.”

“Persis tiga jam yah berarti? Jadi ini baru setengah jalan?”

“Iyah.”

            Lampu pemberitahuan androidnya berkedip merah, angka kapasitas baterainya menunjukkan angka 12%. Sedikit berat rasanya, Kila menekan tombol daya androidnya. Sepanjang jalan Kila memperhatikan sisi luar jendela bis, aroma Bandung terasa semakin dekat dalam pikirannya. Kondektur meneriakkan ‘Pasir Koja Holis’ beberapa kali. Kila merapikan tasnya, bersiap segera turun. Setelah turun dari bis Kila menyalakan kembali androidnya, membuka percakapannya dengan Alvin di whatsapp. Kila mengikuti arahan Alvin setelah turun dari bisnya.

          Whatsapp
          New messages
          Alvin

“Udah dimana?”

“Ini udah di angkot oren Vin.”

“Cieee udah sampe, emang  mau kemana sih?”

“Nginepnya di Dipati ukur Vin, di rumah Bianca.”

“Oh, bilang sama tukang angkotnya turunin di tempat angkot yang mau ke Dipati Ukur. Tapi dari situ ke Dagonya lumayan.”

“Ini semuanya ngomong sunda masa :D”

“Iyah, pasti agak-agak geli gitu ya lo dengernya? Ahaha.”

“Cuma bisa senyum-senyum aja, nggak ngerti ini orang pada ngomong apa. Nanti Kila dikira orang gila.”

“Ati-ati loh Kil, di sana banyak Kamtib.”

“Loh, ahaha. Apa kabar kamtibnya?”

“Lagi pada sibuk cari istri.”

“Sibuk menggapai pujaan hati mungkin Vin.”

“Aihh, jangan bilang gitu ah. Aku udah dua kali nih gagal menggapai cewe. Aku udah di rumah dong. Udah dimana?”

“Ini lagi di simpang Dago, nunggu angkot. Tadi sempet kebawa sampe Surapati sanaan lagi, kelewat. Udah lowbat banget ini Vin handphone. Tewas nih. Kamu jangan tidur dulu kalo aku belum sampe ya.” Kila sedikit khawatir, karena dia belum tahu persis dimana rumah Bianca. Kapasitas baterainya menunjukkan angka 4%, benar-benar krisis.

“Jangaaan, jangan tewas Kilanya. Iyaiya, nggak ko.”

“Apasih Vin, bukan Kila yang tewas. Ya Tuhan.” Mata Kila melotot sejadi-jadinya. Seakan melihat hal yang paling mengejutkan dan menakutkan yang pernah dia lihat. Daya baterainya benar-benar habis. Beruntungnya Kila Bianca sudah menunggu di depan jalan Dipati Ukur, ketika turun dari angkot Kila langsung di sambut Bianca. Sesampainya di Rumah Bianca Kila langsung mengisi ulang baterai androidya. Saat menyala Kila langsung mengetikkan pesan untuk Alvin.

“Vin, ini Kila udah sampe. Ternyata ngga di Dipati ukur, tapi di Surapati.”

            Sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit Kila menunggu tetap tak ada jawaban. Mungkin Alvin lelah, mungkin Alvin kecapaian. Kila segera menepis kemungkinan Alvin sengaja tidur karena tak peduli padanya, tidak, Alvin tidak begitu.
***

            Di ujung jalan Braga Kila dan Bianca terduduk di pinggir pagar. Keduanya terlihat lelah namun tampak tetap semangat untuk menjelajah.

“Numpang lewat di Gasibu udah, di Gedung Sate udah, Museum Geologi udah, Cihampelas udah, Gedung Merdeka juga udah, sekarang kita mau kemana Bi?”

“Ke BIP (Bandung Indah Plaza) atau mau langsung ke Dago?”

“Ke Dago ajalah langsung, udah mulai capek ini kaki. Pegel pegel pecel, hah.”

“Ini jam enam, jalan nanti ditutup jam delapan. Itu tuh Car Free Night nya Dago bakal dimulai. Ya baguslah, biar dapet angkot yah, ahaha.” Kila dan Bianca menumpang angkot menuju Dago, sesampainya di MCD Dago Kila mengirim pesan untuk Alvin.

“Vin, WA gak aktif ya? Lagi dimana?”

“Iyanih Kil, lagi di cas tadi. Kenapa?”

“Taun baruan sama siapa? Kalo gak ada agenda bareng yuk!”

“Terus temenmu gimana? Tahun baruan dimana kamu? Temenin aku ke Dago lah kalo bisa, hhe.”

“Iya di Dago ini, nunggu malemnya di MCD. Banyak balon Vin, ramee.” Mata Kila berbinar, ternyata Alvin tidak ada agenda dengan siapapun, bahkan gadis yang mungkin menitipkan kado yang melalui Sakti. Kado itu kini di hadapannya.

“Ooh, Kila lagi di MCD? Sama siapa aja?”

“Bertiga ini, sama Bianca sama Sakti. Kamu mandi dulu sanah!”

“Banyak balonnya dimana? Nanti temenin dong berkeliaran di Dago bentaaar saja, nanti kukembaikan dirimu ke teman-temanmu.”

“Okeh.”

“Jam delapan ya, pas udah car free night.”

“Siap jaang ;p”

“Udah banyak banget orang belum?”

“Belooom, masih normal ramenya.”

“Okaaayh.”

            Dada Kila berdebar kencang, Alvin, Alvin mengajaknya melewati pergantian tahun, pertambahan usianya juga. Alvin, mungkinkah?
***

“Kirain Alvin mau taun baruan sama temen-temen SMA.”

“Engga, temen-temenku ada acara semua sama pacarnya.”

“Walaah, ahaha. Kamu ngga malam taun baruan sama yang kemarin nemenin kamu ke Margo City?” Kila iseng, menanyakan itu sambil terkekeh.

“Kil...”

“Eh, kenapa?” Kila kaget, Alvin merangkulnya, erat.

“Maafin aku yah.” Alvin menatap Kila lekat, tatapan itu sangat sulit ditebak, tatapan itu entah kemana arah tujuan maksudnya.

“Maaf? Untuk apa? Kamu gak ada salah apa-apa Vin sama Kila, kalo kamu suka ngeledek ya aku anggapnya hiburan aja. Ya kan?” Kila tersenyum palsu, keraguan itu kembali menyeruak. Kila kira Alvin akan menyampaikan sesuatu yang membuatnya terharu tepat pada pergantian tahun ini, tapi ini seakan kebalikannya. Kepalanya yang sejak tadi menatap balon-balon yang bergantungan di sepanjang kawasan Dago tertunduk. Napasnya berat, tertahan. Suaranya terdengar putus-putus.

            Alvin memeluk Kila, tangannya mengusap-usap bahu Kila, mengelus-elus rambut Kila yang sebahu.

“Kamu gak perlu menangis sendirian lagi, di sini udah ada aku. Kila. Bianca ada cerita sama aku, Kil... Lihat aku,” Alvin mengangkat wajah Kila perlahan, penuh perasaan. Matanya juga berkaca-kaca. Tangis mereka berdua pecah, tembok kediaman mereka runtuh sudah. “Aku sadar, aku sayang kamu. Maaf, aku baru berani bilang sama kamu. Maaf aku ngebiarin kamu menangis sendiri selama ini.”

            Alvin menarik Kila berdiri perlahan, bahunya yang kokoh jadi tempat kepala Kila bersandar kini.

“Kila, selamat tahun baru, selamat ulang tahun.”

“Vin, ini udah pagi ya? Ini udah Januari ya?”

“Iyah, kenapa Kilaaah?”

“Ngga apa-apa. Aku cuma mau bilang selamat pagi, Januari.”

            Keduanya bertatapan, di Januari yang baru ini tidak ada lagi keraguan dalam hati keduanya. Tidak lagi ada batas, kesediaan mereka berdua telah meretas. Jika hanya keberanian yang menjadi satu-satunya cara untuk melepaskan segala beban dan rasa tertahan, kenapa tidak segera kau lakukan?


Minggu, 22 Desember 2013

Let It Be

Someone who hugs me
Someone who kisses me
I'll let you be, just let you be

The tears about you and me
The sweat beetwen you and me
Let it be, just let it be

If you never let me be,
I'll let the another one be
Let me be, just let me be

Someone who begs to me
Someone who cries for me
I wanna let you be, wanna let you be

If you never let me be,
I'll let the another one be
Let me be, just let me be

I just wanna let you be
Just wanna you let me be
Love, please let it be

Rasa Kasat Mata

Ada takdir yang dapat menampung kehendakmu, ada. Dari balik kegelapan di depan mata cobalah berdalih untuk mengerti. Terjemahkan kabut yang selimuti puncak hati dengan teliti. Seberapa rasa itu ada dan coba untuk jadi kasat mata.

Ada lagu yang dapat nyanyikan perasaanmu, ada. Di antara beribu sengau yang masuk ke telinga cobalah resapi untuk mendengarkan. Analogikan detak hati menjadi deret nada rasa. Perasaan yang ada dan coba untuk jadi kasat mata.

Ada frasa yang dapat menjadi ceritamu, ada. Dari dasar ketidakyakinan cobalah untuk melawan. Leburkan indah impian dengan kenyataan. Kenyataan perasaan yang tidak kita sadari dan coba untuk jadi kasat mata.

Ada hati yang diam-diam rindukan kamu, ada. Dari lingkar terluar galaksi bima sakti yang sunyi, cobalah untuk berhenti menyendiri. Sadarkan bulan untuk kembali benderang. Sinari rasa yang semakin dewasa, jadikan dia kasat mata.

Rabu, 11 Desember 2013

Menemukanmu

Menemukanmu menjadi satu titik dari panjangnya garis orbit takdirku. Bagiku ini mungkin sedikit lucu. Kala kuingat hapalan tokoh sastra dan karyanya namamu juga ada. Bahkan ketika ku sebutkan teori-teori pemikiran filsafat, bisa jadi aku dilanda gejala kamu-isme, hebat.

Sepanjang kita kenal semua berjalan normal. Aku dan kamu menapak bumi bersama tanpa ada yang spesial. Paling tidak, begitulah yang terdengar dan terlihat. Semakin aku mengelak, bayangmu semakin terasa dekat.

Waktu terus berpacu, jarak bertambah meski kadang kaki ini hilang arah. Seandainya kita duduk berdua dan mendiskusikan tentang perasaan, sejujurnya ada satu yang kusimpan. Perasaan itu, ada untukmu kawan.

Kau, ada dalam ketiadaan. Kau dekat dalam kejauhan. Merindumu buat aku kecanduan. Kau, aku menemukanmu.

Senin, 09 Desember 2013

Kamu

Satu dari sekian banyak hal yang aku takutkan adalah kehilanganmu. Aku takut lama-lama kau ranggas di hati ini. Bukan, bukan karena ada yang lain. Melainkan karena lama-lama aku mampu hidup tanpamu. Meski tak bahagia, meski jadi sebatang kara.

Aku tak sedang berbicara tentang kehilangan hatimu. Karena aku tak pernah benar milikinya dan bukankah rasa kehilangan hanya bersarang dalam kepemilikan? Harusnya begitu bukan?

Juga aku tak berbicara tentang kehilangan ragamu. Menyentuhmu saja terlalu semu bagiku. Jadi bagaimana bisa rasa itu terus menggelinding seperti bola salju?

Kamu, kamu, dan kamu. Kata yang terus terbit di ubun-ubunku. Menggerogoti pondasi kewarasan, melebur dinding rasa dengan ketololan.

Satu demi satu satuan waktu membeku. Berikanku celah untuk meringkas tinta yang tertuang dalam daun ingatanku. Mencari kata yang tak perlu lagi kutata, kamu.

Jumat, 25 Oktober 2013

Semesta, Aku Ingin Hidup




Semesta, aku terduduk memandang langit malammu. Aku sendirian, tak seorangpun ada di sini, di sisiku. Tak seorang pun temani aku nikmati hangatnya malam, malam dimana debu-debuan langit berkedipan manja. Semesta, sudikah kiranya kau dengarkan aku? Ataukah memang tak ada sesuatu apa pun yang sudi dengarkan inti si bodoh ini? Mengapa kau hanya terdiam melihatku seperti ini? Tidakkah ingin kau selamatkan aku? Menuntunku sampai kutemui mega di pagi hari, mengantarku pada titik terang agar mampu melihat langit yang membiru, lagi?

Aku baik saja tanpamu, tanpanya, tanpa siapapun. Aku selalu baik di sepanjang hidupku yang hampir tak pernah hidup. Aku masih cukup bijaksana untuk kebenaranku sendiri. Kebijaksanaan, kebenaran yang tak jua seiring dengan kebahagiaan. Inikah tokoh yang kau tulis untuk kuperankan? Inikah babak yang harus kulalui agar sampai di titik akhir pementasan kehidupan?

Aku tak pernah menolak apa pun. Tidak meteorit yang meninggalkan jejak lubang di permukaan sesuatu yang kusebut dengan perasaan. Tidak pula dandelion yang beterbangan menuju awan, melupakan aku yang termangu merelakan kaca-kaca meretak pecah di mataku. Pun dengan kupu-kupu yang mendobrak keluar dari pintu hatiku, membiarkan hampa merasuk jauh ke dalam jiwa yang mungkin hampir mati. 

Tiga, dua, satu pun aku tak meminta kau jawab tanya-tanyaku. Aku ingin hidup, aku ingin hidup. Semesta, bila memang ada pelangi setelah hujan, ijinkan aku merasakan goresan warnanya. Goreskan dia di dalam ruang hati si bodoh yang tak kenal cahaya ini. Bawa si bodoh ini ke dalam babak drama yang memiliki secercah sinar. Semesta, Bila memang ada hujan setelah panjangnya kemarau, ijinkan aku basah karenanya. Semesta, si bodoh ini ingin hidup, aku ingin hidup.

Minggu, 20 Oktober 2013

Realita Cinta Semesta




Adakah  kamu inginkan Bulan? Rasanya… sekalipun tidak. Segala titik yang menghampar di karpet galaksi Bima Sakti coba mencari jawab. Mengapa si Bulan selalu rindukan kamu? Bukankah kedekatan Bulan dan kamu hanya kesemuan belaka? Kedekatan yang tak pernah benar-benar berarti. Kedekatan yang dikehendaki oleh si Bulan, seorang. Sementara kamu terus acuh, terus mengorbit untuk sang Raja Hari. Bulan pun tahu kamu tak kuasa menolak ayat-ayat takdirmu. Sekali lagi, benarkah kamu tak inginkan si Bulan? Biar debu-debu langit bertanya dan biarkan bulan menghadapinya sebagai rahasia semesta.

Si Bulan menanti-nanti gerhana matahari. Menunggu-nunggu waktunya untuk bisa kembali berada di antara kamu dan si Raja Hari. Dia ingin kembali menghangatkan dinginnya jemari kecilmu. Menyelipkan jemarinya untuk memeluk jemarimu yang hampir membeku. Si Bulan tahu pasti itu hanya sementara. Si Bulan tahu pasti itu hanya satu fase kecil di semesta. Ini bukan kumpulan sajak fakta, ini sajak tentang realita.

Sajak ini tempat koma menjeda. Sajak ini tempat tanya menganga. Sajak ini sajak yang dipastikan takdir untuk ada. Si Bulan tak pernah benar-benar tak ada meski tak pernah jua benar-benar ada. Si Bulan terlalu takut untuk tidak meredup, pantulan sinar Mega tak lagi cerah di matanya. Mega membunuh malam untuk meniadakannya, Mega yang kemudian hilang di jingganya senja. Mencintai bukan tentang pencapaian, mencintai bukan tentang kesepakatan. Mencintai akan berbicara tentang kesediaan. Kesediaan yang dijamin oleh harapan dan keyakinan.

Si Bulan terus mengintip dari langit yang mengabu. Mendengarkan inti suaramu yang begitu berpusat kepada Mega. Adakah kamu mampu untuk merasakannya? Satelit yang menjadikan kamu sebagai pusatnya. Satelit yang utuh sebagai apa yang kamu punya. Karena kamu hidupnya ada, untuk kamu dia dicipta. Meski lirih terasa, partikel angkasa mana yang mampu mematahkan belenggu takdir semesta? Adakah?

Setitik partikel kehidupan mana yang tega padamkan cahaya matamu? Apapun, siapapun dia, ingatlah semesta akan terus bekerja untuk seisinya! Tak ada yang tak digariskan orbit  dalam ayat-ayat takdir semesta. Semua akan bekerja dengan cara yang tak selalu dapat diduga. Letihlah! Demi mampu berporos kembali, Bumi.