Budayakan apresiasi karya, Budayakan hargai hak cipta, Kalau mau gaya Jangan bajak karya saya. Selalu cantumkan nama penulis asli dan sumber dalam Copy - Paste anda :)

Minggu, 20 Oktober 2013

Realita Cinta Semesta




Adakah  kamu inginkan Bulan? Rasanya… sekalipun tidak. Segala titik yang menghampar di karpet galaksi Bima Sakti coba mencari jawab. Mengapa si Bulan selalu rindukan kamu? Bukankah kedekatan Bulan dan kamu hanya kesemuan belaka? Kedekatan yang tak pernah benar-benar berarti. Kedekatan yang dikehendaki oleh si Bulan, seorang. Sementara kamu terus acuh, terus mengorbit untuk sang Raja Hari. Bulan pun tahu kamu tak kuasa menolak ayat-ayat takdirmu. Sekali lagi, benarkah kamu tak inginkan si Bulan? Biar debu-debu langit bertanya dan biarkan bulan menghadapinya sebagai rahasia semesta.

Si Bulan menanti-nanti gerhana matahari. Menunggu-nunggu waktunya untuk bisa kembali berada di antara kamu dan si Raja Hari. Dia ingin kembali menghangatkan dinginnya jemari kecilmu. Menyelipkan jemarinya untuk memeluk jemarimu yang hampir membeku. Si Bulan tahu pasti itu hanya sementara. Si Bulan tahu pasti itu hanya satu fase kecil di semesta. Ini bukan kumpulan sajak fakta, ini sajak tentang realita.

Sajak ini tempat koma menjeda. Sajak ini tempat tanya menganga. Sajak ini sajak yang dipastikan takdir untuk ada. Si Bulan tak pernah benar-benar tak ada meski tak pernah jua benar-benar ada. Si Bulan terlalu takut untuk tidak meredup, pantulan sinar Mega tak lagi cerah di matanya. Mega membunuh malam untuk meniadakannya, Mega yang kemudian hilang di jingganya senja. Mencintai bukan tentang pencapaian, mencintai bukan tentang kesepakatan. Mencintai akan berbicara tentang kesediaan. Kesediaan yang dijamin oleh harapan dan keyakinan.

Si Bulan terus mengintip dari langit yang mengabu. Mendengarkan inti suaramu yang begitu berpusat kepada Mega. Adakah kamu mampu untuk merasakannya? Satelit yang menjadikan kamu sebagai pusatnya. Satelit yang utuh sebagai apa yang kamu punya. Karena kamu hidupnya ada, untuk kamu dia dicipta. Meski lirih terasa, partikel angkasa mana yang mampu mematahkan belenggu takdir semesta? Adakah?

Setitik partikel kehidupan mana yang tega padamkan cahaya matamu? Apapun, siapapun dia, ingatlah semesta akan terus bekerja untuk seisinya! Tak ada yang tak digariskan orbit  dalam ayat-ayat takdir semesta. Semua akan bekerja dengan cara yang tak selalu dapat diduga. Letihlah! Demi mampu berporos kembali, Bumi.

Jumat, 02 Agustus 2013

Saling Sendiri





Aku dan kamu sendiri, di dalam hati sendiri
Saling kesepian, saling merindukan
Saling membutuhkan, tapi nihil kejelasan
Saling mengerti, juga saling menepi

Kau sendiri dalam hatimu
Aku sendiri dalam hatiku
Kita berdua takkan hidup bersama

Kita saling sendiri, di relung hati sendiri
Saling kesepian, saling merindukan
Saling membutuhkan, tapi nihil kejelasan
Saling mengerti, juga saling menepi

Kau sendiri dalam hatimu
Aku sendiri dalam hatiku
Kita berdua takkan hidup bersama

Terus harus saling sendiri
Membunuh rindu sendiri
Terus harus saling sendiri
Mengubur cinta sendiri

Kepercayaanku Atau Ketololanku?





Begitu manis, sabit menemaniku menyesap rindu, menghabiskan sepertiga malam ini. Bersentuh langsung dengan bumi, terpayungi atap semesta bertaburkan bintang. Kucoba untuk menatapnya, mencoba membaca makna dari senyumnya. Dadaku menghangat, desiran darahku semakin cepat. Kurasakan hadirmu disini, aku merasakanmu begitu dekat, sedekat hati kita. Senyumnya seutuh senyummu, sinarnya sehangat pelukanmu. Mungkinkah kau juga sedang bersamanya? 

Aku percaya, masih dan selalu masih ada intuisi diantara kita. Seperti purnama dan pasang laut, seperti umbra dan penumbra, seperti... seperti bumi dan matahari. Meski jarak tak jua lelah memisah aku dan kamu, memisah kita. Waktu memberikan ruang yang terlalu terbuka untuk kita saling merindu, karena takdir memberikan celah yang cukup untuk kita saling mencinta. 

Entah bagaimana hatiku begitu yakin pada hatimu, pada caramu menyayangiku. Aku merasa kau menyayangiku sebagai aku menyayangimu. Bagimu, bagiku, bagi kita menyayangi tidak harus melalui apa yang terucap. Caramu menatapku, senyummu, pelukanmu yang meniadakan semua ketakutanku.

Akankah waktu sudi membiarkan pelukan kita saling berjumpa(lagi)? Maukah Tuhan memberikan kesempatan untuk pelukan malam itu menyapa deru nafas aku dan kamu? Malam itu malam yang selalu kurindu. Aku percaya, semua ada masanya. Akan indah tepat pada waktunya. Peluk itu menenangkanku, memberikan nafas baru dalam hidupku. 

Aku percaya dan siap menerima segalanya. Jika kepercayaanku harus dibayar dengan lukapun, degan tangispun. Jika semua adalah kesalahanku dalam menafsirkan, jika semua hanya nyata dalam anganku, tak apa. Jika kepercayaanku adalah kebodohanku dalam anganku sendiri, ketololanku yang selalu merindumu. Tak apa, ini mauku, ini inginku.

Senin, 29 Juli 2013

Perasaan Itu



Dihatiku ada sebuah perasaan yang akupun tak dapat menjelaskan kehadirannya. Perasaan yang menyita perhatianku tanpa pernah kuucapkan padamu. Perasaan yang tak perlu disebut, karena akupun tak yakin perasaan ini adalah perasaan yang seharusnya.  Perasaan yang terus kusimpan dalam diamku, dalam rinduku. Perasaan yang kusampaikan melalui siratan tulisan, melalui percakapan dengan Tuhan.

Perasaan yang mungkin bersarang dalam pengabaianmu, sebuah perasaan yang tak memerlukan balasan. Perasaan yang selalu manis dengan ketulusannya, keikhlasannya. Perasaan yang dapat mereka sebut dengan pembodohan, yang tak memedulikan seberapa dia kesakitan dalam kesendirian. Perasaan yang hanya bisa mengadu perihnya pada Tuhan. Perasaan yang tak sedikitpun ingin muncul ke permukaan.

Perasaan yang tak perlu dipertanyakan, yang terlalu mudah untuk dipermainkan. perasaan yang akan mati-matian dipertahankan. Perasaan yang tak pernah punya hak untuk meminta, perasaan yang tak pernah ada hak untuk menuntut. Perasaan yang begitu berharga. Ya, Hanya sebuah perasaan, perasaan itu. Perasaanku padamu.

Saat Kau Lupakan Aku





Saat kau merasa tak ada seorangpun yang mendengarkanmu
saat itu juga kau sedang melupakan aku.
Saat kau merasa tak ada seorangpun yang memedulikanmu
saat itu juga kau sedang melupakan aku.

Saat kau merasa tak ada seorangpun yang menginginkanmu
saat itu juga kau sedang melupakan aku.
Saat kau merasa tak ada seorangpun yang merindukanmu
saat itu juga kau sedang melupakan aku

Saat kau merasa tak ada seorangpun yang membutuhkanmu
saat itu juga kau sedang melupakan aku
Saat kau merasa tak ada seorangpun yang mengindahkanmu
saat itu juga kau sedang melupakan aku.

Saat kau merasa tak ada seorangpun yang mengharapkanmu
saat itu juga kau sedang melupakan aku
Saat kau melupakan aku
saat itu juga kau tak bisa merasakan kesediaanku

Jumat, 26 Juli 2013

Dia-mu, Dia-ku



Semesta menjawab semua tanda tanyaku, dan kini aku mengerti tentang sesuatu yang telah terjadi. Aku tak salah menilaimu, tak sedikitpun. Aku dan kamu adalah sama, sama-sama pecinta yang setia. Celah-celah antara langit dan bumi memberikan ruang untuk kita saling bertemu, kemudian saling merasakan. Bait-bait panjang yang telah kutulis  untuk dia, nada-nada yang tak terhenti kau lantunkan untuknya. Keduanya memberikan satu frasa yang sama-sama kita rasakan: kelelahan sendirian.


Bukan, bukan aku dan kamu berhenti mencintainya, merindunya, mengindahkannya, bukan sama sekali. Hanya sebuah kelelahan dalam kesendirian yang membuat kita saling mengerti, dan ingin saling melindungi. Karena aku dan kamu sama-sama pernah ditinggalkan dalam kesendirian, karena aku dan kamu sama-sama bertahan di dalam sebuah kekosongan.


Tak pernah terpikir kamu akan menggantikan tempatnya, dia akan selalu jadi yang pertama, dan utama. Kuyakin kaupun begitu, aku tak akan menggantikan tempatnya, dia akan selalu jadi yang pertama, dan utama. Sederhana bukan? Ya, memang sangat sederhana.


Seandainya dia-mu tak kembali, seandainya dia-ku tak kembali, aku percaya aku dan kamu akan terus bersama. Karena kita saling mengerti, dan ingin saling melindungi. Jika aku berada dalam posisimu, sudah barang tentu aku memilihnya karena dia yang pertama dan utama. Dia-ku berarti semesta, dia-mu pun begitu bukan?


Segalanya tak berarti kamu berhenti menyayangiku, segalanya tak berarti aku berhenti menyayangimu. Hanya saja dia-mu dan dia-ku memang akan terus jadi yang pertama dan utama.  Harusnya aku tak terkejut, namun apadaya. Aku manusia biasa yang akan merelakanmu kembali pada dia, seperti kamu yang akan rela bila aku kembali padanya.



Aku tahu, dan aku mengerti. Kini, diatas embun pagi, diterpaan mentari pagi, aku menatap hatimu dalam ketenangan bersamanya. Kamu tak perlu melangkahkan kaki, tetaplah disini, tungguilah aku yang berdiri sendiri menanti pelukannya datang kembali.

Sabtu, 13 Juli 2013

Suatu Ketika Dalam Hidup



Suatu ketika dalam hidup kau kan merasa kehilangan dirimu, tak mengenal dirimu sendiri. Kamu yang dulu penuh cinta, kamu yang dulu penuh kasih, bisa menjadi seseorang yang tak mengenal cinta. Seseorang yang terlalu sering dikhianati.

Suatu ketika dalam hidup kau kan merasa kehilangan dirimu, tak mengenal dirimu sendiri. Kamu yang dulu berjuang, kamu yang dulu bertarung, bisa menjadi seorang pecundang, seseorang yang terkatung-katung.

Suatu ketika dalam hidup kau kan merasa kehilangan dirimu, tak mengenal dirimu sendiri. Kamu yang dulu menghirup udara segar bisa menjadi seseorang yang terkurung dalam ruang hampa udara. Kamu yang dulu bersinar bisa menjadi sebuah awan hitam.

Suatu ketika dalam hidup kau kan merasa kehilangan dirimu, tak mengenal dirimu sendiri.  Jadi, siapa kamu saat itu bahkan kamu tidak tahu. Kamu telah tenggelam dan tak tahu tepian mana yang harus kau gapai.

Suatu ketika dalam hidup kau kan merasa kehilangan dirimu, tak mengenal dirimu sendiri. Suatu ketka dalam hidup, kau hanya perlu menyisihkan sedikit waktu untuk mengingat siapa dirimu. Suatu ketika dalam hidup kau boleh pejam sejenak kedua matamu, untuk meresapi kembali untuk apa dan untuk siapa hidupmu.